- Welcome to my blog guys - Happy reading - Please leave a comment and follow my blog and my others acount - Thanks you -

Search

Translate

Untitle

September 09, 2014

Haruskah aku terus membohongi diri sendiri? Dan sampai kapan aku kan selalu begitu? Setelah kubisa bermain kata-kata, merangkainya dalam kalimat-kalimat dusta, berimaji dalam angan dan ambisi. Seandainya dulu tak seperti itu, mungkin akan lain kejadiannya sekarang. Entahlah, tetapi aku tak pernah juga berkhayal terlalu berlebihan akan apa yang akan terjadi. Egoku menyiksaku hingga kini. Ambisiku selalu membanggakanku namun kadang juga menyakiti orang lain. Apakah dia yang pertama kali kusakiti walaupun belum sempat bergandengan tangan? Bukan, bukan dia yang pertama. Ada dia yang telah dulu pernah kusakiti, karena begitu “bodoh”-nya. Tak pantaslah hebatku bergandeng dengan kebodohannya itu. Kucampakkan dia begitu saja setelah sekian lama bersama. Hingga ku tak ingin lagi mencinta sampai batas waktu yang kubatasi karena aku takut untuk “menyakiti lagi”.

Itulah yang seharusnya dia tahu dan masih ada lagi. Namun, apakah sudah terlambat untuk berkisah akan masa lalu yang tak pernah kubagi dengan siapapun? Hanya Dia dan hamparan putih yang kugoreskan dengan tarian penaku saja yang tahu. Jika akan kucurahkan semuanya, sebaiknya langsung saja kepada dia yang kutuju. Karena beban masa lalu akan dia tak pernah beranjak dalam benakku. Mungkin dia sudah memaafkan bahkan melupakan. Tetapi, aku tidak. Rasa bersalahku yang mungkin tak lagi dihiraukannya masih mengganjal hingga kini.

Andai saja, halaman tengah bukuku yang dituliskan dengan pensil berupa naskah itu jadi kukirimkan kepadanya dalam sepucuk surat, mungkin kini aku takkan berkisah. Maafkan aku, dan tolong jangan tertawakan aku. Jika dia bisa jujur dengan masa lalu, kenapa aku tidak? Dan inilah aku sepuluh tahun yang lalu.

Kusebut cinta semenjak sepucuk puisi itu diselipkannya pada bukuku yang ia pinjam. Apa benar ketika itu dia sedang jatuh cinta kepadaku? Atau hanya ingin mempermainkan perasaanku saja atau ingin mengalihkan perhatianku dari ambisi utamaku? Kudiam dan kukubur saja kejadian itu, tiada kucurahkan kepada siapapun. Kuanggap saja tak pernah terjadi apa-apa.

Kupikir dia telah melupakanku, puisi dan cinta itu. Ternyata belum. Dan kejadian siang itulah yang mengganggu pikiranku hingga kini. Aku tak pernah tahu tentang perasaan dan inginnya yang sebenarnya. Ketika itu kita masih belia, belum mengerti apa itu cinta. Tetapi sangat mengerti cinta versi manusia seumuran kita. Dia berlalu, hanya punggungnya saja yang bisa kutatap hingga akhirnya lenyap di antara bangunan sekolah. Aku berharap dia akan menoleh ke belakang sebelum dia benar-benar hilang dari pandanganku, seperti yang ada di film. Apakah dia terluka dengan kata-kataku yang sesuka hati dan tidak menghargai usahanya?

Sejak itu, pikiranku tak pernah tenang. Jahatkah aku ketika itu? Ingin kumeminta maaf atas sikapku itu. Tapi aku tak pernah berani merobek kertas itu, kemudian melipatnya dan menyerahkan itu kepadanya. Sungguh aku tak berani, karena ada sebuah harapan yang kuberi untuknya. Aku takut jika waktu itu datang, malah aku yang tak bisa menerima atau tak menginginkannya lagi. Atau dia yang tak akan pernah menginginkanku lagi.

Aku tak bisa menerimanya, karena aku punya batas waktu sampai kapan aku harus sendiri. Batas waktu yang kubuat sebelum ia hadir. Bukan kutak suka padanya, hanya waktu saja yang belum tepat. Aku ingin dia menungguku hingga batas waktu itu berakhir. Namun, aku yang pemberani kataku ini sama sekali tak berani menyampaikannya. Kalau menyangkut masalah hati, aku memang takut. Takut untuk disakiti dan takut akan menyakiti.

Semenjak kejadian itu, dia membeku. Dibangunnya dinding es pembatas antara aku dan dia. Samar-samar kumelihatnya. Dan senyum kekonyolan itu tak pernah disunggingkannya lagi untukku. Sesekalinya dia tersenyum, seketika itulah goresan luka di hatiku semakin jelas. Luka karena sikapku sendiri. Dan aku merasa tersakiti karena sakitnya.

Ketika batas waktu itu berakhir, kuberharap dia melakukannya lagi. Tetapi tidak. Sorot mata itu tak pernah kumengerti. Apakah masih menyimpan luka dan dendam atau sebuah asa.

***

  Kepadamu sahabat yang telah membaca curahan hatiku ini, terima kasih atas waktunya. Itulah aku sepuluh tahun yang lalu. Aku hanya ingin berkisah kepadamu sobat, agar rasa bersalah yang selalu menghantui itu lekas pergi.
Tak ingin bermaksud membuka kembali cerita lama yang telah lama kututup. Hanya saja, ia tak pernah benar-benar tertutup rapat. Selalu menggodaku untuk kembali mengingatnya. Aku tak pernah benar-benar menikmati masa sekarang ketika sedang bersenda gurau bersamanya. Karena rasa bersalah itu selalu datang di tengah gelak dan tawa. Apa waktu itu dia benar-benar suka? Kalau benar, terima kasih atas perasaan itu. Aku sangat menghargai usahanya. Dan salahku tak pernah bisa mengatakan yang sebenarnya. Apa waktu itu dia terluka? Kalau benar, aku ingin meminta maaf.
Ia selalu baik kepadaku pun hingga kini. Beberapa waktu yang lalu dia pernah jujur, namun aku belum siap jujur kepadanya. Kan kujadikan dia kenangan terindah di masa itu. Dan sekarang, akan kututup rapat-rapat kisah masa lalu itu. Biarkan masa depan itu datang menyambut.
Salam, sahabatmu...

0 komentar:

Post a Comment