- Welcome to my blog guys - Happy reading - Please leave a comment and follow my blog and my others acount - Thanks you -

Search

Translate

KEKESALAN TERHADAP PENUMPANG BUS TRANS PADANG

September 19, 2014


Akhirnya masalah yang gw khawatirkan terjadi juga. Dan gw pun sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi masalah tersebut dari jauh hari.

Berbicara tentang angkutan umum “Bus Trans Padang”, tentunya banyak alasan kenapa orang lebih memilih menggunakan angkutan tersebut. Salah satunya menginginkan KENYAMANAN selama perjalanan. Contohnya gw. Gw naik BTP kalau gw pulang ke Solok “sendirian”. Dari halte dekat rumah gw naik BTP, kemudian lanjut lagi naik angkot ke Loket Bus jurusan Solok. Kalau dari rumah gw naik angkot, itu biasanya repot di Terminal Angkot Pasar Raya Padang saat gw mau ganti angkot. Karena barang bawaan gw lumayan berat. Biasanya, rute yang gw tempuh ini seringkali mendapati BTP tak ada bangku kosong alias anda dipersilahkan berdiri (belum PENUH SESAK). It’s okay buat gw, tidak masalah. Karena gw pun masih kuat, segar dan cantik J

Begitupun sekembalinya gw dari Solok “sendirian”, setelah naik angkot pertama gw pun naik BTP lagi. Nah, ini beda situasi dan kondisi lho. Gw pusing, puyeng, lemas dan bedak pun sedikit luntur dalam perjalanan dari Solok-Padang selama +/- 1,5 jam. Gw memilih naik BTP karena soal kenyamanan tadi. Gw,  tidak akan naik kalau BTP itu sudah tak ada lagi bangku kosongnya. Gw rela menunggu lama BTP berikutnya asalkan gw bisa duduk. Tapi biasanya, rute yang satu ini gw selalu mendapati BTP yang kosong karena halte tersebut adalah halte pertama.

Sekedar info, gw bukan anak sekolahan atau anak kuliahan lagi. Umur gw 27 tahun dan sudah berkeluarga. Gw bisa baca tulis dan juara kelas semasa sekolah dulu. Gw bisa baca kok aturan duduk yang di tempel di kaca jendela BTP. Kita (yang masih kuat berdiri) harus mendahulukan atau mempersilahkan penumpang lain untuk duduk di bangku kita apabila kondisinya memprihatinkan. Seperti penumpang LANJUT USIA, Ibu hamil, penumpang yang membawa anak dan penumpang berkebutuhan khusus.

So, apa masalahnya hari ini sesampainya gw di Padang? Gw sudah duduk cantik di bangku kesukaan gw. Sepanjang perjalanan, penumpang terus masuk dan akhirnya BTP sesak. Dua halte sebelum halte pemberhentian gw, penumpang pun sedikit berkurang, dan suasana sedikit longgar. Ada seorang Ibu sekitar umur 45 tahunan (LANJUT USIA kah?) yang masuk di saat kondisi BTP sudah sesak, soalnya gw baru lihat beliau. Dengan tidak sopannya, menyuruh gw “geser”. Untuk lebih menarik, silahkan simak dialog berikut:

Ibu: “Geser dikit!”
Gw: “Geser? Geser kemana Bu?”
Ibu: “Berdiri!”
Gw: “Emang Ibu kenapa? Saya kan belum turun.”
Ibu: “Eh, kamu kan anak sekolah, ga bisa baca ya? Tu lihat! (sambil menunjuk ke kaca) Ga bisa baca?
Gw: “Emang Ibu sudah lanjut usia?”
Ibu: “Saya ini PUSING KALAU BERDIRI!”
Gw: “Saya juga pusing Bu, baru dari Solok. Saya ga akan naik kalau tadi Bus ini penuh karena saya mau duduk. Bentar lagi saya juga turun kok, sabar aja.”
Ibu: “Saya juga mau turun bentar lagi.”
Gw: “Terus kalau mau turun ngapain nyuruh saya berdiri? (Dengan volume keras agar penumpang lain dengar)”
Penumpang yang mungkin pernah diperlakukan seperti gw pun ikut senyum-senyum kecil, seperti mendukung gw soalnya udah ketemu dari halte saat menunggu BTP dengan mereka.

Gw hanya manusia biasa yang juga punya hati nurani. Sebelum gw naik BTP, gw selalu berniat apabila menemui penumpang yang kondisinya memprihatinkan (empat kondisi di atas), gw akan mempersilahkan mereka duduk. Memangnya hati gw terbuat dari batu? Terus mata gw pura-pura tidak melihat begitu?

Ada beberapa poin yang bisa gw simpulkan dari tulisan gw ini jika naik BTP:
  1. Kalau ingin NYAMAN, bisa duduk, naiklah BTP yang masih ada bangku kosongnya.
  2. Kalau ingin buru-buru tetapi memaksakan naik BTP (kadang tempat yang dituju tidak dilewati angkot) yang sudah tidak ada bangku kosong alias anda silahkan berdiri, ya sudah kuatkan diri anda untuk berdiri, dan sabar menunggu adanya bangku kosong. Kalau tidak mau ya sudah, naik angkot saja sana! Gitu saja kok repot?
  3. Masalah LANJUT USIA, kondisi tersebut setahu gw, orang tersebut tidak mungkin jalan sendiri, pastilah ditemani sama saudaranya. Soalnya sudah pikun, mata kabur, dan badan pun sudah ga kuat kemana-mana sendirian. Dan penumpang lain pun bisa menilai mana yang LANJUT USIA mana yang bukan. Jangan karena ADA YANG LEBIH MUDA dari anda, seenaknya saja anda suruh berdiri. Orang lain kan juga bayar!
  4. Ini soal pilihan. Apa yang anda putuskan, anda harus siap menghadapinya.
Jadi, gw mau saran nih buat sanak saudara di Kota Padang dan sekitarnya. Kasih tahu saudara-saudara kalian, kalau mau naik BTP itu begini dan begitu. Jangan seenaknya saja menyuruh orang lain untuk berdiri, kalau tidak ditawarkan sama yang empunya. Karena, situasi dan kondisi orang lain itu tidak seperti yang kita lihat dengan mata. Contohnya gw, dibilang anak sekolahan, padahal gw ga pakai seragam. Mungkin anak kuliahan lah ya maksudnya si Ibu tadi. So, gimana kalau ada cewek yang juga kecil imut-imut kaya gw disuruh berdiri padahal lagi hamil muda? Yang lagi pusing dan mual-mualnya parah? Apa si Ibu tahu kondisi si cewek tadi? Main suruh berdiri seenaknya. Emang nya ini BTP punya monyang lu? Orang lain pun butuh kenyamanan juga, jangan ego dong Pak/Bu.

Untuk pengelola BTP, tolong dicermati lagi. Kapasitas yang 40 orang penumpang, 20 orang duduk dan 20 orang berdiri itu apakah sudah benar? Kalau benar, ga mungkin BTP se-sesak dan sepadat itu. Kalau saya perhatikan selama ini, penumpang yang berdiri melebihi dari 20 orang. :D

#Kejadian yang gw alami ini sudah sering dialami juga oleh penumpang lain.
#Ditulis dalam keadaan kesal sesampainya di rumah!          
#Tulisan sudah mendekati penggunaan kata baku, hanya masih suka memakai kata “gw” J

1 comment: