- Welcome to my blog guys - Happy reading - Please leave a comment and follow my blog and my others acount - Thanks you -

Search

Translate

Untitle Reply

September 26, 2014
Kisah itu tak akan berhenti sampai di sini, karena dirimu adalah kisah komikku yang paling nyata. Setiap kali aku membaca sebuah komik aku selalu memilih karakter komik yang sama dengan dirimu. Ketika aku membaca komik GTO aku bukannya menyukai karakter utama yaitu “Onizuka Eikichi” tapi aku malah memilih Urumi Kanzaki karena aku melihat dirimu ada di sana. Ketika membaca komik Naruto Aku bukannya menyukai Naruto, Sasuke, ataupun Hinata bahkan aku tak memilih menyukai Nara Sikamaru yang menggambarkan diriku, malahan aku memilih mencintai karakter “Uciha Hitachi” karena dia adalah karakter sempurna dan cerdas. Di dalam dirinya aku juga membayangkan dirimu karakter sempurna untuk seorang juara. Dalam kisah Fate Stay Night aku tidak memilih karakter Shirou Emiya, Saber (pelayan yang setia), Sasaki Kojiro (Petarung Legenda Jepang), tetapi mataku akan tertuju pada Thosaka Rin karena bagiku dia adalah dirimu (seorang magi yang cantik, cerdas, sedikit pemarah dan dengan ambisi besar menjadi pemenang).

Mungkin bagimu kisah komik adalah kisah anak-anak, tapi bagiku kisah komik lebih jujur jika dibandingkan dengan kisah roman manapun, yang mana dalam komik terdapat impian yang selalu dipertahankan sampai akhir cerita dan tidak berubah oleh perkembangan waktu. Walau itu hanyalah tindakan konyol yang takkan tercapai tapi itulah indahnya kisah dalam komik. Aku adalah wujud kisah komik masa lalu diriku sendiri yang berisikan kisah konyol dan memuakkan bagi kebanyakan orang. Aku menjadikan diriku “Hero of Justice (Archer/Shirou Emiya)” seorang pelayan yang hanya akan memberi dan mengasihi bagi semua insan. Satu-satunya magi yang bisa mensumon diriku adalah “Thosaka Rin”.

Itu semuanya hanyalah pemikiran konyol yang aku pupuk selama ini menjadi sepenggal kisah dalam dunia khayalku saat menyantap hidangan nikmat dari kisah yang kubaca saat aku sendiri dan hanyut dalam lamunan (tak ada ova, ecchi maupun hentai).

Dalam kisahku tak ada kata “cinta bukan harus memiliki” karena dirimu akan selalu kuhadirkan dalam tiap lembaran kisah komik milikku. Dalam tiap lembaran kisah komikku tak ada kata “disakiti dan menyakiti” yang ada hanyalah senyuman dan tawa.

Saat kukembali dari dunia khayal yang aku buat sendiri aku hanya bisa tersenyum sendiri sambil bergumam dalam hati “hiburan konyol para pecundang”. Cukup lama kubangun duniaku sendiri menjadikanku seorang yang tak peduli akan kenyataan, dengan segudang tanya apakah dirimu masih mengingatku “Rival Abadimu”.

Terus kukunjungi dunia itu saat aku berada dalam kesendirian, terus kubangun petualangan seru dalam tiap lebarannya sampai semuanya terhenti dan dunia khayalku membeku ketika aku membuka halaman Facebook tertera friend request dari dirimu. Aku hanya terpaku di kala itu, sesaat terasa menyenangkan, karena dirimu masih ingat denganku.

Roda waktu kembali berputar perlahan dalam dunia khayalku, perlahan kebekuan itu mencair. Kan mulai kubangun kembali lembaran petualangan itu dan tak lagi kubangun sendiri melainkan bersama dirimu yang nyata secara tidak langsung.

Saat pertama kali aku bicara denganmu aku bagai terperangkap dalam ruangan gelap yang di sana hanya ada aku yang berdiri sendiri lemah tak berdaya sedang di depanku berdiri dengan gagah seorang Gilgamesh yang siap menghujamku dengan ribuan pedang yang kuberi nama “Unlimited Blade Works” pertarungan terakhir dalam memenangkan pertempuran holy grail.

Trase On” suara itu terdengar diiringi ribuan pedang berterbangan bagaikan busur panah, sejenak terlintas di benakku kisahku akan berakhir. Namun pedang-pedang itu tak menancap ke tubuhku melainkan mengarah ke tubuh Gilgamesh. Saat kumenoleh ke belakang dirimu bersama Archer Servant setiamu datang menyelamatkanku. Dan kau berkata padaku “tak ada seorangpun yang boleh mengalahkanmu bahkan membunuhmu kecuali diriku rival abadimu”.

Duaniaku kembali buyar saat kau meneriakiku di telphon pada pembicaraan pertama itu dengan berbagi tentang kisah masa lalu yang menurutku sangatlah indah.

***
Sekarang kisah itu sudah berakhir karena aku belum punya ide cerita yang baru untuk duniaku yang kubangun sendiri itu. Namun lembaran itu tetap kukunjungin setiap kali aku dalam kesendirian.
Serial Animasi Fate Stay Night karya Type Moon adalah anime favorit yang tak pernah bosan kutonton dalam dunia nyata. Wakakakkaakaka... Sedikit aneh tapi bagiku mengasyikkan. Itulah aku yang dulu serta aku yang sekarang.

KEKESALAN TERHADAP PENUMPANG BUS TRANS PADANG

September 19, 2014


Akhirnya masalah yang gw khawatirkan terjadi juga. Dan gw pun sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi masalah tersebut dari jauh hari.

Berbicara tentang angkutan umum “Bus Trans Padang”, tentunya banyak alasan kenapa orang lebih memilih menggunakan angkutan tersebut. Salah satunya menginginkan KENYAMANAN selama perjalanan. Contohnya gw. Gw naik BTP kalau gw pulang ke Solok “sendirian”. Dari halte dekat rumah gw naik BTP, kemudian lanjut lagi naik angkot ke Loket Bus jurusan Solok. Kalau dari rumah gw naik angkot, itu biasanya repot di Terminal Angkot Pasar Raya Padang saat gw mau ganti angkot. Karena barang bawaan gw lumayan berat. Biasanya, rute yang gw tempuh ini seringkali mendapati BTP tak ada bangku kosong alias anda dipersilahkan berdiri (belum PENUH SESAK). It’s okay buat gw, tidak masalah. Karena gw pun masih kuat, segar dan cantik J

Begitupun sekembalinya gw dari Solok “sendirian”, setelah naik angkot pertama gw pun naik BTP lagi. Nah, ini beda situasi dan kondisi lho. Gw pusing, puyeng, lemas dan bedak pun sedikit luntur dalam perjalanan dari Solok-Padang selama +/- 1,5 jam. Gw memilih naik BTP karena soal kenyamanan tadi. Gw,  tidak akan naik kalau BTP itu sudah tak ada lagi bangku kosongnya. Gw rela menunggu lama BTP berikutnya asalkan gw bisa duduk. Tapi biasanya, rute yang satu ini gw selalu mendapati BTP yang kosong karena halte tersebut adalah halte pertama.

Sekedar info, gw bukan anak sekolahan atau anak kuliahan lagi. Umur gw 27 tahun dan sudah berkeluarga. Gw bisa baca tulis dan juara kelas semasa sekolah dulu. Gw bisa baca kok aturan duduk yang di tempel di kaca jendela BTP. Kita (yang masih kuat berdiri) harus mendahulukan atau mempersilahkan penumpang lain untuk duduk di bangku kita apabila kondisinya memprihatinkan. Seperti penumpang LANJUT USIA, Ibu hamil, penumpang yang membawa anak dan penumpang berkebutuhan khusus.

So, apa masalahnya hari ini sesampainya gw di Padang? Gw sudah duduk cantik di bangku kesukaan gw. Sepanjang perjalanan, penumpang terus masuk dan akhirnya BTP sesak. Dua halte sebelum halte pemberhentian gw, penumpang pun sedikit berkurang, dan suasana sedikit longgar. Ada seorang Ibu sekitar umur 45 tahunan (LANJUT USIA kah?) yang masuk di saat kondisi BTP sudah sesak, soalnya gw baru lihat beliau. Dengan tidak sopannya, menyuruh gw “geser”. Untuk lebih menarik, silahkan simak dialog berikut:

Ibu: “Geser dikit!”
Gw: “Geser? Geser kemana Bu?”
Ibu: “Berdiri!”
Gw: “Emang Ibu kenapa? Saya kan belum turun.”
Ibu: “Eh, kamu kan anak sekolah, ga bisa baca ya? Tu lihat! (sambil menunjuk ke kaca) Ga bisa baca?
Gw: “Emang Ibu sudah lanjut usia?”
Ibu: “Saya ini PUSING KALAU BERDIRI!”
Gw: “Saya juga pusing Bu, baru dari Solok. Saya ga akan naik kalau tadi Bus ini penuh karena saya mau duduk. Bentar lagi saya juga turun kok, sabar aja.”
Ibu: “Saya juga mau turun bentar lagi.”
Gw: “Terus kalau mau turun ngapain nyuruh saya berdiri? (Dengan volume keras agar penumpang lain dengar)”
Penumpang yang mungkin pernah diperlakukan seperti gw pun ikut senyum-senyum kecil, seperti mendukung gw soalnya udah ketemu dari halte saat menunggu BTP dengan mereka.

Gw hanya manusia biasa yang juga punya hati nurani. Sebelum gw naik BTP, gw selalu berniat apabila menemui penumpang yang kondisinya memprihatinkan (empat kondisi di atas), gw akan mempersilahkan mereka duduk. Memangnya hati gw terbuat dari batu? Terus mata gw pura-pura tidak melihat begitu?

Ada beberapa poin yang bisa gw simpulkan dari tulisan gw ini jika naik BTP:
  1. Kalau ingin NYAMAN, bisa duduk, naiklah BTP yang masih ada bangku kosongnya.
  2. Kalau ingin buru-buru tetapi memaksakan naik BTP (kadang tempat yang dituju tidak dilewati angkot) yang sudah tidak ada bangku kosong alias anda silahkan berdiri, ya sudah kuatkan diri anda untuk berdiri, dan sabar menunggu adanya bangku kosong. Kalau tidak mau ya sudah, naik angkot saja sana! Gitu saja kok repot?
  3. Masalah LANJUT USIA, kondisi tersebut setahu gw, orang tersebut tidak mungkin jalan sendiri, pastilah ditemani sama saudaranya. Soalnya sudah pikun, mata kabur, dan badan pun sudah ga kuat kemana-mana sendirian. Dan penumpang lain pun bisa menilai mana yang LANJUT USIA mana yang bukan. Jangan karena ADA YANG LEBIH MUDA dari anda, seenaknya saja anda suruh berdiri. Orang lain kan juga bayar!
  4. Ini soal pilihan. Apa yang anda putuskan, anda harus siap menghadapinya.
Jadi, gw mau saran nih buat sanak saudara di Kota Padang dan sekitarnya. Kasih tahu saudara-saudara kalian, kalau mau naik BTP itu begini dan begitu. Jangan seenaknya saja menyuruh orang lain untuk berdiri, kalau tidak ditawarkan sama yang empunya. Karena, situasi dan kondisi orang lain itu tidak seperti yang kita lihat dengan mata. Contohnya gw, dibilang anak sekolahan, padahal gw ga pakai seragam. Mungkin anak kuliahan lah ya maksudnya si Ibu tadi. So, gimana kalau ada cewek yang juga kecil imut-imut kaya gw disuruh berdiri padahal lagi hamil muda? Yang lagi pusing dan mual-mualnya parah? Apa si Ibu tahu kondisi si cewek tadi? Main suruh berdiri seenaknya. Emang nya ini BTP punya monyang lu? Orang lain pun butuh kenyamanan juga, jangan ego dong Pak/Bu.

Untuk pengelola BTP, tolong dicermati lagi. Kapasitas yang 40 orang penumpang, 20 orang duduk dan 20 orang berdiri itu apakah sudah benar? Kalau benar, ga mungkin BTP se-sesak dan sepadat itu. Kalau saya perhatikan selama ini, penumpang yang berdiri melebihi dari 20 orang. :D

#Kejadian yang gw alami ini sudah sering dialami juga oleh penumpang lain.
#Ditulis dalam keadaan kesal sesampainya di rumah!          
#Tulisan sudah mendekati penggunaan kata baku, hanya masih suka memakai kata “gw” J

Untitle

September 09, 2014

Haruskah aku terus membohongi diri sendiri? Dan sampai kapan aku kan selalu begitu? Setelah kubisa bermain kata-kata, merangkainya dalam kalimat-kalimat dusta, berimaji dalam angan dan ambisi. Seandainya dulu tak seperti itu, mungkin akan lain kejadiannya sekarang. Entahlah, tetapi aku tak pernah juga berkhayal terlalu berlebihan akan apa yang akan terjadi. Egoku menyiksaku hingga kini. Ambisiku selalu membanggakanku namun kadang juga menyakiti orang lain. Apakah dia yang pertama kali kusakiti walaupun belum sempat bergandengan tangan? Bukan, bukan dia yang pertama. Ada dia yang telah dulu pernah kusakiti, karena begitu “bodoh”-nya. Tak pantaslah hebatku bergandeng dengan kebodohannya itu. Kucampakkan dia begitu saja setelah sekian lama bersama. Hingga ku tak ingin lagi mencinta sampai batas waktu yang kubatasi karena aku takut untuk “menyakiti lagi”.

Itulah yang seharusnya dia tahu dan masih ada lagi. Namun, apakah sudah terlambat untuk berkisah akan masa lalu yang tak pernah kubagi dengan siapapun? Hanya Dia dan hamparan putih yang kugoreskan dengan tarian penaku saja yang tahu. Jika akan kucurahkan semuanya, sebaiknya langsung saja kepada dia yang kutuju. Karena beban masa lalu akan dia tak pernah beranjak dalam benakku. Mungkin dia sudah memaafkan bahkan melupakan. Tetapi, aku tidak. Rasa bersalahku yang mungkin tak lagi dihiraukannya masih mengganjal hingga kini.

Andai saja, halaman tengah bukuku yang dituliskan dengan pensil berupa naskah itu jadi kukirimkan kepadanya dalam sepucuk surat, mungkin kini aku takkan berkisah. Maafkan aku, dan tolong jangan tertawakan aku. Jika dia bisa jujur dengan masa lalu, kenapa aku tidak? Dan inilah aku sepuluh tahun yang lalu.

Kusebut cinta semenjak sepucuk puisi itu diselipkannya pada bukuku yang ia pinjam. Apa benar ketika itu dia sedang jatuh cinta kepadaku? Atau hanya ingin mempermainkan perasaanku saja atau ingin mengalihkan perhatianku dari ambisi utamaku? Kudiam dan kukubur saja kejadian itu, tiada kucurahkan kepada siapapun. Kuanggap saja tak pernah terjadi apa-apa.

Kupikir dia telah melupakanku, puisi dan cinta itu. Ternyata belum. Dan kejadian siang itulah yang mengganggu pikiranku hingga kini. Aku tak pernah tahu tentang perasaan dan inginnya yang sebenarnya. Ketika itu kita masih belia, belum mengerti apa itu cinta. Tetapi sangat mengerti cinta versi manusia seumuran kita. Dia berlalu, hanya punggungnya saja yang bisa kutatap hingga akhirnya lenyap di antara bangunan sekolah. Aku berharap dia akan menoleh ke belakang sebelum dia benar-benar hilang dari pandanganku, seperti yang ada di film. Apakah dia terluka dengan kata-kataku yang sesuka hati dan tidak menghargai usahanya?

Sejak itu, pikiranku tak pernah tenang. Jahatkah aku ketika itu? Ingin kumeminta maaf atas sikapku itu. Tapi aku tak pernah berani merobek kertas itu, kemudian melipatnya dan menyerahkan itu kepadanya. Sungguh aku tak berani, karena ada sebuah harapan yang kuberi untuknya. Aku takut jika waktu itu datang, malah aku yang tak bisa menerima atau tak menginginkannya lagi. Atau dia yang tak akan pernah menginginkanku lagi.

Aku tak bisa menerimanya, karena aku punya batas waktu sampai kapan aku harus sendiri. Batas waktu yang kubuat sebelum ia hadir. Bukan kutak suka padanya, hanya waktu saja yang belum tepat. Aku ingin dia menungguku hingga batas waktu itu berakhir. Namun, aku yang pemberani kataku ini sama sekali tak berani menyampaikannya. Kalau menyangkut masalah hati, aku memang takut. Takut untuk disakiti dan takut akan menyakiti.

Semenjak kejadian itu, dia membeku. Dibangunnya dinding es pembatas antara aku dan dia. Samar-samar kumelihatnya. Dan senyum kekonyolan itu tak pernah disunggingkannya lagi untukku. Sesekalinya dia tersenyum, seketika itulah goresan luka di hatiku semakin jelas. Luka karena sikapku sendiri. Dan aku merasa tersakiti karena sakitnya.

Ketika batas waktu itu berakhir, kuberharap dia melakukannya lagi. Tetapi tidak. Sorot mata itu tak pernah kumengerti. Apakah masih menyimpan luka dan dendam atau sebuah asa.

***

  Kepadamu sahabat yang telah membaca curahan hatiku ini, terima kasih atas waktunya. Itulah aku sepuluh tahun yang lalu. Aku hanya ingin berkisah kepadamu sobat, agar rasa bersalah yang selalu menghantui itu lekas pergi.
Tak ingin bermaksud membuka kembali cerita lama yang telah lama kututup. Hanya saja, ia tak pernah benar-benar tertutup rapat. Selalu menggodaku untuk kembali mengingatnya. Aku tak pernah benar-benar menikmati masa sekarang ketika sedang bersenda gurau bersamanya. Karena rasa bersalah itu selalu datang di tengah gelak dan tawa. Apa waktu itu dia benar-benar suka? Kalau benar, terima kasih atas perasaan itu. Aku sangat menghargai usahanya. Dan salahku tak pernah bisa mengatakan yang sebenarnya. Apa waktu itu dia terluka? Kalau benar, aku ingin meminta maaf.
Ia selalu baik kepadaku pun hingga kini. Beberapa waktu yang lalu dia pernah jujur, namun aku belum siap jujur kepadanya. Kan kujadikan dia kenangan terindah di masa itu. Dan sekarang, akan kututup rapat-rapat kisah masa lalu itu. Biarkan masa depan itu datang menyambut.
Salam, sahabatmu...