- Welcome to my blog guys - Happy reading - Please leave a comment and follow my blog and my others acount - Thanks you -

Search

Translate

PERSAHABATAN SURGA, MEMAKNAI SEBUAH PERSAHABATAN DENGAN CINTA (BAGIAN 3)

April 04, 2011
Kisah Yully Riswati
Sahabatku Menguatkanku
Sebagai manusia biasa terkadang ada saatnya aku mencapai titik terendah dalam semangatku. Aku butuh orang lain yang menguatkan, meskipun mungkin hanya dengan sekedar kata-kata.
Seperti hari itu ketika mengambil keputusan untuk break kontrack kerjaku dengan majikan, aku merasa pada titik gamang. Aku sudah memutuskan dengan alasan yang sudah kupertimbangkan baik-baik, tapi jujur saja ada takut bagaimana selanjutnya langkahku.

Aku meneleponnya dan menyampaikan keputusan serta alasanku. Tidak kusangka jawabannya begitu menguatkanku, “Keputusan sudah kamu ambil Dik, alasan kamu juga sudah Kakak dengar. Kakak hanya bisa bilang, apapun yang terjadi kamu tidak sendiri. Ada Kakakmu di sini, ada sahabat-sahabatmu yang perduli padamu.”

Rasa haru menyeruak relung kalbuku, kalimat singkat itu begitu ampuh membangkitkan semangatku. Dan aku hanya bisa menangis, antara haru dan bahagia menjadi satu dan tak bisa meneruskan percakapan ditelepon.

Ketika kubuka akun FB, terbaca sebuah update status olehku.
“Exspecially to my sister Yully Riswati
"""I love You..."""" Don't worry to much. Things will be set right when the right time comes. Life consists of ups and downs. There is no need to be annoyed by downs. Just you know i'll avaliable to be listener... May Allah bless You.”

Air mata haru kembali berlinang, hanya sebuah komentar yang bisa kutuliskan. Tapi seribu doa dalam hati untukmu sahabatku, terima kasih karena engkau menguatkanku.
To Kwa Wan, Maret 2011


Kisah Astriana Krisma Risky
Sahabat mendekat bila musuh menjauh. Tetap mendekat, ketika musuh mendekat.
Sahabatku, kamu seperti pelangi yang memberi secercah harapan setelah kabut mendung dan hujan mendera. Walau tak selalu ada, namun warna warni harapanmu nyata untukku. Tak cukup seperti pelangi, tapi juga seperti bintang yang setia menemani malam dengan cahayamu. Walaupun tak seterang matahari, namun kau mampu sinari duniaku.

Kau juga terasa seperti hujan yang dapat menyejukkan hari-hariku walau terkadang juga dapat menyebabkan banjir air mata. Semua peristiwa entah sedih, senang, duka maupun emosi jiwa yang meluap, teredam karena sosokmu di sisiku. Perkataanmu yang halus mampu membuatku tenang. Terasa bahwa kau tak ingin sakitiku.

Terkadang kamu kesal dengan sikapku, begitu pula sebaliknya. Namun semua itu membuat persahabatan kita semakin terlihat bagai pelangi. Membias indah di angkasa luas. Membuat iri mereka yang melihat akan indahnya persahabatan kita. Marahan memang biasa, tapi jangan pernah kita saling menyakiti dengan menusuk dari belakang. Bila suatu saat nanti kita jauh, aku akan selalu mengenang kisah kita. Sahabat, andalkan aku di saat kamu butuh.

Untuk sahabatku yang selalu ada. Namun dia sering mengatakan kalau aku tidak selalu ada untuknya, aku egois. Aku sedih karena sebenarnya aku juga sudah semampuku untuk selalu ada untuknya. Ketika aku membatalkan janji dan tidak sesuai keinginannya, dia marah dan ku sadari aku tidak menghiburnya, tetapi hanya mampu mengemis maaf darinya.
Aku yang pemalu membuatku susah untuk mengekspresikan apa yang ingin ku lakukan untuk menghiburnya. Namun perlahan semua membaik. Kini kita masih bersama. Saat salah satu dari kita pergi, tak lupa untuk selalu membelikan sesuatu sebagai oleh-oleh. Maafkan aku yang tidak bisa sempurna menjadi sahabatmu. Tapi, aku sangat sayang dengan sahabat-sahabatku, aku ingin melakukan apa pun untuk kalian, sahabatku.

Kisah Gayatri Rajapatni
Aku dan Kusuma memiliki banyak perbedaan sifat, namun perbedaan itulah yang menjadikan kami semakin dekat dan saling melengkapi. Aku yang memiliki sifat pendiam, energik, humoris, dan agak ceroboh memberikan warna dalam kehidupan seorang Kusuma yang memiliki sikap lebih kalem, pendiam dan teliti.
Pertemuan kami berawal saat kami sama-sama memasuki salah satu jurusan perguruan tinggi di Jawa Tengah. Kami sering melewatkan hari-hari bersama, bercanda, berbagi cerita, makan, membaca, berlatih tari dan banyak lagi kegiatan yang kami lakukan bersama untuk menghabiskan waktu luang kami. Saat ia mengalami masa terburuknya akibat perceraian kedua orang tuanya, aku berusaha untuk selalu mendampinginya dan menjadi pendengar yang baik untuknya. Aku tak bisa membantu apapun selain menghiburnya dan mengajaknya sejenak melupakan segala permasalahannya itu dengan melakukan kegiatan positif bersama yang dapat menyenangkan bagi kami berdua. Senang rasanya ketika melihat ia tersenyum dan tertawa disela-sela kesedihan yang ia alami. Begitupun ketika aku merasa berputus asa saat ibuku tercinta meninggal dunia Kusuma selalu hadir menemaniku, memberikanku banyak motivasi untuk bangkit dari keterpurukanku itu. Kusuma meyakinkanku bahwa aku bukanlah satu-satunya yang mempunyai nasib malang, iapun berjanji akan selalu ada menemani dan membantuku melupakan kesedihanku.
Kata-kata yang aku ingat dari dia dahulu adalah, “Allah telah menghendaki mamamu untuk kembali pada-Nya, biarkan mama menjadi tenang dan bahagia di sana. Dengan keadaanmu yang amburdul seperti ini mama akan berat meninggalkanmu padahal masanya yang telah digariskan Allah telah habis. Tunjukan bahwa kamu masih memiliki banyak hal yang bisa menjadi kebangganmu, kebanggaannya dan kebanggan bagi orang lain. Biarkan mamamu di sana tersenyum bahagia menyaksikan kamu di sini baik-baik saja..”
Ya benar saja, persahabatan yang penuh cinta akan membawa kebahagiaan dan memberikan kekuatan disaat kita sedang mengalami masa-masa suka maupun saat kita mengalami kegagalan atau cobaan terberat sekalipun. Indahnya persahabat yang kumiliki bersamamu Kusuma. Kusuma… tetaplah menjadi sahabat tercinta dan terbaikku.

Kisah Luthfiana Izza
Aku belum menentukan judul tulisan ini. Tapi tak kan jadi masalah, kalian pasti mengerti apa yang kuceritakan nanti. Jadi tenang saja. Aku sempat meragukan arti sebuah persahabatan. Orang-orang di luar sana bilang kalau sahabat selalu ada saat suka dan duka. Sahabat mau membagi gundah gulananya dengan sahabat lainnya.
Aku sudah mempersiapkan diriku untuk itu. Namun aku kecewa, sedikit kecewa karena teman sebangkuku kini tak lagi mau membagi gulananya denganku. Aku sedih karena sebagai orang yang paling "dekat" dengannya malah tak pernah tahu masalahnya. Aku tak ingin mempermasalahkan hal itu. Itu haknya mau membagi masalahnya dengan siapa.

Aku rasa, aku berbeda dengan orang kebanyakan. Aku tak punya kata-kata yang bagus untuk mendefinisikan persahabatan. Apalagi setelah insiden yang kuceritakan tadi dan kejadian-kejadian yang kualami setiap hari di mana teman-temanku hanya mendekat saat mereka membutuhkanku.
Namun, saat anganku menerawang ke masa lalu, aku menemukan makna sebuah persahabatan. Adalah Triyani, tetanggaku, teman mainku sejak aku hobi main sundamanda walau selalu kalah sampai sekarang aku hampir lulus sma. Dia sangat baik padaku. Dia mau menemaniku main sampai sore dan ibu memanggilku untuk pulang. Dia mau menghabisi kutu yang ada di rambutku dg sbr walau aku selalu memintanya berhenti. Dia tak pernah lelah mendengarkan ceritaku soal cinta pertamaku dan memberi masukan selama hampir empat tahun. Subhanallah, dialah sahabat terbaik yang kumiliki.

Bila aku ditanya tentang definisi sahabat, aku akan menjawab, "Sahabat itu "tan 90", terlalu indah dan terlalu rumit bila harus dilukiskan dengan kata, seperti Triyani."


Kisah Riri Maretta
MERINDUKAN SAHABAT SEPERTIMU

Mey, teman bermainku di masa kecil. Waktu aku masih tinggal di kampung halamanku. Rumah Mey bersebelahan dengan rumahku. Namun akhirnya aku harus pindah dari rumah yang kemudian disewakan oleh keluargaku itu keti...ka akan masuk Taman Kanak-Kanak, ke kota yang tak jauh dari kampungku. Di tempatku yang baru, aku bertemu dengan teman dan sahabat baru. Tetapi tetap saja aku merindukan Mey.

Sudah lama tak berjumpa, aku bertemu dengan Mey yang mendaftar di SMP yang sama sepertiku. Mey orang baru di kota tempatku tinggal sekarang, dia tak punya teman dan tak kenal siapa-siapa. Aku dan Mey kembali dekat seperti dulu. Aku seorang murid teladan dengan prestasi yang gemilang. Namun itu depan para guru, dibelakang mereka aku sama seperti anak-anak lainnya. Suka bikin onar dan ngejahilin teman-teman di sekolah. Yups! Aku hanya ingin menikmati masa mudaku dengan bertingkah seperti anak-anak pada umumnya. Aku tak perlu seperti kutu buku yang hanya sibuk dengan buku dan tugas-tugas.

Hanya Mey yang tak pernah bosan menasehatiku dan mengkritik setiap ulah yang aku perbuat. Walaupun kami tidak satu kelas, tetapi dia selalu tahu ulah apa yang telah kuperbuat. Kalau sudah seperti itu, aku seperti seorang anak yang sedang dinasehati oleh orang tuanya. Aku senang, dan itu membuatku makin sayang dengan Mey.

Tiga tahun lamanya kebersamaan aku, Mey dan Tina sahabat baruku selama di SMP. Kami terpisah karena akan melanjutkan sekolah di SMA yang berbeda. Tujuan kami tak sama. Ada harapan dan keinginan untuk bersekolah di SMA tujuan masing-masing. Tentunya waktu untuk bersama menjadi sedikit, mungkin akan jarang. Karena, di sekolah yang baru, pasti kami bertemu dengan teman baru dan sahabat baru.

Enam bulan sudah tak bertemu, kami bertiga merencanakan acara reuni yang akan diadakan di rumahku. Tapi sayang, sehari sebelum acara. Aku mendapat berita kalau Mey kecelakaan di Danau Singkarak. Ganasnya riak Danau Singkarak yang sebenarnya tak ganas, telah menyeretnya jauh dari hidupku.

Aku kehilangan Mey, sahabat terbaik yang pernah aku miliki. Dan kini, aku bersyukur bisa bertemu dan memiliki sahabat seperti yang saat ini aku miliki. Semoga persahabatan kita tetap abadi dengan bermodalkan ketulusan.


Read more >>

1 comment: