- Welcome to my blog guys - Happy reading - Please leave a comment and follow my blog and my others acount - Thanks you -

Search

Translate

DAHSYATNYA DOA IBU (BAGIAN 2)

April 04, 2011
Kisah Sri Wahyuti
Dahsyatnya doa ibu benar-benar kurasakan saat aku melahirkan anakku yang kedua. Saat itu aku mengalami masalah kehamilan, yakni menderita tekanan darah tinggi. Jadi saat itu diriku termasuk dalam status waspada. Karena kehamilan dengan darah tinggi itu termasuk kondisi yang berbahaya. Dikhawatirkan ibu akan mengalami kejang saat melahirkan. Dan itu membahayakan ibu dan bayi.
Sepanjang perjuangan untuk melahirkan anakku yang kedua, ibu dan suami setia menemaniku. Jam demi jam aku lalui dengan penuh perjuangan. Ada 6 jam aku harus menunggu dari bukaan satu sampai dengan bayi siap dilahirkan. Bukaan satu sampai delapan aku masih bisa tahan dengan rasa sakit yang kurasakan. Aku pun masih bercanda-canda dengan suamiku. Tapi memasuki bukaan sembilan, sakit yang kurasakan sungguh tidak tertahankan. Walaupun sudah pernah melahirkan, namun proses kelahiran kali ini benar-benar berbeda. Aku didera tekanan darah tinggi. Jadi setiap detik harus dipantau.


Melihat aku sangat kesakitan, ibuku berdoa, “Ya Allah, mudahkanlah anakku dalam melahirkan. Lancarkanlah prosesnya. Laki-laki atau perempuan sama saja. yang penting ibu dan bayinya sama-sama selamat,” Ibuku dengan mata berkaca-kaca mengusap rambutku.

Dan seperti mendapat kekuatan baru aku pun berjuang sekuat tenagaku. Tak lama lahirlah anak keduaku. Seorang gadis mungil yang cantik. Yang luar biasa, begitu bayi lahir, tekanan darahku langsung kembali normal. Subhanallah, kekuatan doa ibu sangat luar biasa.


Kisah Nana Khan Khairina
Bagiku, tatapan lembut mata ibuku dan senyum tulusnya adalah doa dan harapannya untukku.
Ibuku selalu melakukan yg trbaik untukku. Setiap nasehatnya tak lain itu adalah doanya. Bahkan, setiap larangannya pun sebenarnya itu adalah doanya.


Setiap aq akan ujian atau pun akan ikut tes, ku tahu beliau selalu mendoakanku. Saat aq sakit, beliau merawatku. Disetiap jari jemarinya yg sangat telaten merawatku itu, ku tahu disana tersemat doanya untukku.


Disaat aku pergi mengendarai motor sendiri kemana pun, ia ingatkan aku agar selalu berhati-hati. Bagiku, itu bentuk lain dari doanya. Mungkin aku tak tahu, seberapa sering ia mendoakanku. Namun, semua yg kudapatkan sekarang, tentulah tak lepas dari doa ibuku. Dulu, saat aku pulang kuliah kesoren mengendarai motor, aku merasa sangat capek, badan terasa pegal, tengkukku terasa kaku. Maka aku mengendarai motor pun sudah tak mantap lagi, di jalan aku hampir saja digeser motor yg ngebut.

Sekonyong-konyong jantungku berdegup kencang. Untung saja pengendara motor yg ngebut itu tak menyenggolku. Padahal hampir saja, mgkin hya beberapa puluh senti saja akan mgenaiku.
Sampai dirumah ibuku telah menungguku di depan rumah. Awalnya wajahnya khawatir, tpi ketika melihatku telah tiba dirumah. Ia tersenyum kecil. Aku tahu, disaat ibuku menungguku pulang, tentulah ia terus menerus berdoa untukku. Mungkin karena doa beliau, aku selamat dari senggolan motor yg melaju kencang saat di jalan tadi. (Ah, ibu meski doamu tak kudengar. Namun aku tahu, kau selalu khawatir jka aq pulang terlambat. Aku dapat membaca tiap garis mimik wajahmu itu ibu. I love u so much....^_^)


Kisah Riri Maretta
AIR MATA MAMA MELEPAS KEPERGIANKU

Aku seorang siswa yang aktif di berbagai kegiatan ekstrakurikuler di sekolah. Tak pernah ada kata lelah, walaupun banyak yang mengejekku dengan sebutan “kerempeng”. Dengan sebutan seperti itu, banyak yang me...ragukan kekuatan fisikku dalam kegiatan pramuka maupun olah raga. Yups! Aku tak selemah yang mereka pikir. Aku tak pernah tepar ataupun pingsan di setiap upacara atau kegiatan baris-berbaris ditengah panas terik selama berjam-jam. Dan alhamdulillah aku jarang jatuh sakit akibat kesibukanku di sekolah. Sakitku datang kalau memang sudah waktunya dan sedang ada virus yang mewabah.

Namun, siapa sangka pagi itu aku tumbang tanpa keinginanku? Kami peserta Jambore Daerah akan berangkat ke lokasi acara yang jaraknya dua jam dari tempatku. Pagi itu, kami melaksanakan upacara pelepasan yang dihadiri oleh orang tua peserta dan para tamu undangan. Aku berdiri tepat di depan pembina yang sedang berkotbah. Aku merasa diriku baik-baik saja. Tapi, tiba-tiba sang pembina berhenti bicara dan menatapku penuh tanya, “Kamu kenapa? Wajahmu pucat!”. Semua mata memandangku dan barulah aku merasa kalau diriku sedang tidak baik.

Apa yang ada dalam pikiranku saat itu? Aku bukannya mengkhawatirkan diriku yang sedang di khawatirkan oleh orang banyak dan Mamaku. Tetapi, kenapa ini terjadi padaku di saat acara penting seperti ini? Setelah ragaku diseret dari arena upacara, aku merasakan diriku lemah tak berdaya. Tubuhku dingin, wajahku pucat dan kepalaku pusing. Bagaimana dengan perjalanan nanti? Kalau kondisiku tak membaik, pastilah aku sakit di lokasi acara. Lalu siapa yang akan mengurusku?

Mama menangisi keadaanku yang jarang terjadi ini. Dia meminta kepada pembinaku untuk membatalkan keberangkatanku. Dan keputusan ada di tanganku, pergi atau tidak. Aku putuskan untuk tetap berangkat, karena aku yakin aku akan baik-baik saja di sana.

Sesampainya di bumi perkemahan, semua orang mengangkat barang-barang dan perlengkapan pribadi. Kedua tangan dan punggung mereka penuh dengan beban. Tak ada tempat kosong untuk mengangkat beban bawaanku. Mau tak mau aku yang sedang lemah ini harus mengangkat sendiri barang bawaanku.

Sesampainya di lokasi tenda yang akan kami dirikan, semua orang bekerja sama membangun mendirikan tenda dan membuat peralatan lainnya untuk kebutuhan kami selama di sana. Tak ada seorang pun yang menanyakan perihal sakitku. Ya sudah, kuanggap saja diriku sedang sehat dan ikut membantu mereka.

Ketika sibuk bekerja, tiba-tiba tubuhku kembali kuat. Rasa pusing tidak ada lagi, sendi-sendi yang tadinya tak berdaya kini kuat kembali. Penyakit tak jadi menghampiriku. Aku yakin, ini semua berkat doa Mama yang tadinya tak merelakan aku pergi.



Read more >>

1 comment: